Kamis, 25 Juni 2015

Sabtu Malam


Senja merangkak menuju malam
Hitam nan kelam
Roman muka yang bertalu-talu menghujam masuk
Derap gerimis dengan pongahnya mengayun ambung
Ini dilema bagai buah simalakama
Dimakan pahit, dibuang sayang
Dinikmati pedih, dilupakan enggan

Berkutat pada riuh rendah angin malam di luar sana
Anganku berontak memang sableng
Bimbang, gelisah, gundah gulana
Aku ini  si pengais puing-puing kenangan
Aku ini yang tak mampu menyemai benih rindu di ladangmu
Kau tancapkan akar liar di sajakku
Melesak dalam seperti menggodot ranah hati

Biar ku titipkan rasa ini pada batu
Biar hujan yang bertanggung jawab
Mengikis batu hingga lenyap
Kini malampun kian larut
Pohon-pohon membisu jaga ketenangan
Kunang-kunang yang berbinar di balik jendela

Mengantarku tidur di pelabuhan bantal golek

1 komentar:

  1. Puisi karya saya yang satu ini berhasil membuat saya menjadi juara I Lomba Menulis Puisi yang diselenggarakan oleh PBSID Universitas Sanata Dharma.

    BalasHapus