Kamis, 25 Juni 2015

Lima Belas Poin dari Si Penulis




 1. Siapa aku yang hanya bisa menulis hingga renta
 2. Mengilhami tangan ini untuk melabuhkan sederet imajinasi
 3. Bicara cinta, hidup, maupun yang empunya hidup
 4. Siapa aku yang bukan aktivis akapela di kapel sang Maha puisi 
 5. Dari sini.
 6. Kita dapat menafsirkan kata yang tak sempat tersentuh
 7. Meluruskan kata yang khilaf
 8. Menambah  perbendaharaan kata untuk  si ‘tukang perintah’
 9. Yang mungkin terkadang sudah tak berjeroan lagi
10. Tapi diri ini menolak lupa
11. Kelompok sejenis kami ini banyak
12. Aku menyukai tata eksterior yang dapat mengoyak hati
13. Sering disalahkan karena kata yang kerap melebamkan mata
14. Mungkin terlalu cepat, tapi aku ingin berhenti saja di angka lima belas

15. Namun diri ini tak akan pernah berhenti untuk mendendangkan kata-kata

Wajah Kehidupan

Pergi berjalan melipir di sisi hidup ini, licin bagai permainan air di waterboom.
Kita adalah orang yang sering tergelincir masuk dan mendapati ruang gelap yang buntu.
Di sana kita bisa mencium wangi tata kota yang sumpek dengan segala benda  estetis di atasnya.
Mereka lucu.
Tinggal menyempil-nyempil di suatu bidang yang sudah jengah ditinggali.
Persegi. Kenapa ku katakan begitu? Karena memang tiada atap penutup di atasnya.
Bukanlah benda bervolume yang kau tahu selayaknya.
Kita bukan bagian dari mereka. Tapi tidakkan rasa iba mencuat dari benakmu?
Pernahkah pikiranmu menjamah kehidupan mereka?
Kita bisa saja terjerembab masuk lebih dalam dan sulit kembali.
Hidup seperti roda. Terus berputar.

Kita adalah kusir yang harus pandai-pandai dalam menjalani roda kehidupan ini.


Wanita Setengah Baya Itu


Wanita setengah baya itu
Punya rambut enggan memutih
Beliau selalu mewanti-wanti
dengan nasihat yang hampir membludak di otakku
Tak ada kejengahan yang muncul ke permukaan

Kaki itu berdiri sendiri tanpa ada bayangan yang menyokong
Hanya ada sebongkah peluh perengus
dan ambisi yang dikejar semangat
Beliaulah tumpuan kami
Tempat dimana aku mengadu

Setiap perli biarlah terhapus sapuan angin, Nak
Beliau membelaku sampai titik darah penghabisan
Beliaulah tonggak penyangga
Karena tangan-tangannya akan menghempas bandit-bandit hingga binasa

Segenggam Tekad Memburu Ambisi

Saya ini marhaenis

Hati saya matematis


Seluruh saya tiada pamrih


Haluan saya tiada cikar


Janganlah ada sangsi terhadap sahaya


Yakinlah akan cinta yang mendarah daging ini


tak pernah susut lebih-lebih terurai


Saya bukan berdarah bali


Terus berjuang tanpa gentar


Sahayalah calon minantu idaman


Kendati sahaya tak punya uang segepok


Meski maskawin tiada bertafsir


Tapi cinta sahaya 'kan berkenan


Tak kan lapuk meski kalender berkali-kali berganti





Gila

Saya bisa saja jadi seniman
Saya menyeringai, orang heran
Saya manyun, orang kepingkel-pingkel
Punya topeng jago akting

Ya ampun, apa ya mereka heran dengan style saya?
Rambut gimbal menjuntai
Tapi saya bukan anak bajang
Bukan anak reggae
Bukan pula titipan Nyi Ratu atau titisan Mbah Kolodite
Rombeng-rombeng itu asyik kan?
Tuhan saja maha asyik
Saya ini citraan-Nya

Saya duduk di dipan
Memilin rambut sambil cari serangga penghisap darah
Weladalah
Saya malah diusir sama yang punya dipan

Saya itu hidup menggelandang
Anak emperan
Suka cengar-cengir santai

Bingung setengah buntu saudara. Beberapa orang meneriaki saya 'orang gila'



Carut Marut Puisi

Karya : Birgita Olimphia Nelsye dan Elisabet Olimphia Selsyi

Jam karet mendetik, menyeret jarumnya
Arloji patah hati dan baterai yang nyaris mati
Kami tidak punya puisi untuk sahur nanti
Hanya kedelai beragi dan nasi yang hamper basi
Dan segelas air tuba yang menggondok

Seorang laknat dari jalanan kota
Menahan amarah dalam pingitan
Rakyat jelata sambat sana-sini
Mengaduh kenaikan harga barang
Maunya serba bersubsidi

Bulan Ramadhan bulan yang gemar dandan
Maklum sebentar lagi  lebaran
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan
Janganlah engkau minta cinta pada penyair,
Tetapi mintalah pada Allah, sang pemberi hidup


Terik menarik matahari keubun-ubun
Kami mengisi lambung dengan dahaga sendiri
Menghindari kemewahan duniawi
Peluh mengeluh jatuh ke baju
Menikmati debu jalanan

Hari ini aku pulang kelewat waktu
Lebih petang dari gembala pulang merumput
Bedug digebuk,
Membuka telinga orang bebal
Kepala keluarga memimpin doa


Puasa dan Puisi


Bulan sabit muda pertama sudah ketara
Sidang Isbat paripurna
Jamaah menyambangi surau
Tarawih pertama di bulan suci
Kita punya saja kuntuk sahur


Angin menyapu gerimis,
Dan lapar yang nyaris pesimis
Menit dan menit lainnya dikuncir
Pendakwah memenuhi stasiun televisi
Mengambil jatah gaji selebriti


Anak-anak pulang mengaji
Menunggu burit disambi cekikikan
Langit mulai usang
Matahari meninggalkan sinar di ufuk
Gugusan planet membersihkan jejaknya


Langit berganti sesi
Ayam-ayam mulai rabun
Kami menyeduh puisi dalam secangkir teh
Nasi garing dan sambal terasi menanti
Demi isi ulang energi

Lalu Hujan Deras Sekali (dengan sedikit gubahan)

Karya: Birgita Olimphia Nelsye & Elisabet Olimphia Selsyi


              Dinihari ialah seni mengingat; satire yang tumbuh di bibir-bibir para pencibir.

            Sore itu, kau adalah berita dalam televisi yang mudah diduga bagaimana akhirnya, sementara aku penonton setia sebab kadang-kadang terlalu banyak pilihan sama dengan tak ada pilihan lain. Secara saksama, kudengar-lihat bagaimana kau memberitakan kronologi peristiwa yang kau tolak sebagai repetisi dan peranku bertambah satu di sini—penonton yang seolah bodoh dan harus tercengang menyaksikan siaran kabar tentang kejadian tipikal.

            Kau selalu memulai dengan cara yang itu-itu lagi. Pertama, kau akan menyampaikan prolog membosankan tentang bagaimana kau bertemu mantan kekasihmu. Kedua, dengan sangat berbinar, kau ungkit segala baik dan mengabaikan keburukan yang lebih banyak kau telan darinya. Ketiga, seperti biasa kau akan menutupnya dengan pertanyaan, “Mengapa ia tega meninggalkan aku?”

            Kemudian, bagian yang telah kuhafal, kau akan menatap langit ruangan dengan pendar matamu yang berperan sebagai sepasang mata paling terluka di dunia. Lalu tangismu pecah disusul pertanyaan-pertanyaan sialan, “Apakah aku terlalu gemuk untuknya? Apakah aku lawan bicara yang membosankan? Kalau iya, apa sebabnya? Mengapa ia bertingkah tak peduli atas segala kepedulianku padanya? Apakah aku tak tampak menarik? Apakah aku harus melakukan operasi plastik?”

          Begitulah kau, bertahun-tahun menjadikan aku tempat bersandar saat kau merasa harus menangis sembari mempertanyakan adakah yang mau dan mampu menerima apapun adanya dirimu. Beginilah aku, bertahun-tahun mengusap air matamu yang sesungguhnya tak perlu kau tumpahkan. Andai kau tahu bagaimana aku telah menerimamu sebaik ibu menerima kehadiran anaknya lengkap dengan segala kenakalannya. Aku ingin menjadi seorang pelukis yang mengenal wajahmu hanya dengan melihat, bukan meraba seperti orang buta.

            Begitulah kau, bertahun-tahun tak juga membuatmu merasa cukup. Bahwa sempurna bukanlah hal yang dapat kau kecup. Bahwa saat kau terluka, hatikulah yang satu-satunya kuncup. Beginilah aku, bertahun-tahun tak pernah kau baca. Mungkin halaman terakhirku telah melipat dirinya sendiri sebagai pertanda bahwa segalanya mengenal sudah – dengan atau tanpa akhir bahagia.

            Setelah air matamu kering, seperti biasa kau mengantarku pulang dan tak pernah sampai ke rumah. Di tepi jalan malam itu, kau melepas helm untuk mengakhiri hari dengan ucapan terima kasih yang lesu, sementara aku sibuk memilih antara membalasnya dengan sampai jumpa atau hati-hati saja. Aku tak memilih keduanya. Lalu hujan deras menerpa dan dinihari terlalu kolot untuk mengenal mentari.
            Begitulah kita yang terpisah oleh marka pertemanan. Dinihari menjadi waktu yang paling pas untuk kita memenuhi trotoar jalan tanpa harus takut kena tilang. Basah di pinggir kakimu harus kau keringkan. Jangan memijak kamar dengan membawa becak lumpur yang hitam. Lalu mengetuk pintu pulang dan membiarkan ibu terbangun dari rebahnya. Aku menuju kamar, menghabisi kantukku. Ranjang adalah tempatku berpulang ketika tidak ada hati untuk berpaut.

 Kantuk menyeret ilusi dan hal-hal paling melankolis. Dinihari yang terlalu meruput untuk menjemput mimpi. Mimpi dan realitas seperti tiada beda. Mereka selalu join. Keduanya tidak mampu menyatukan kita. Kau tampak getir di mimpiku. Membawa mawar yang tersayat durinya sendiri. Ia mati suri. Lalu, kau menanamnya di kebun belakang bersama belukar dan ilalang. Menjadikannya lapuk bersama debu halaman. Mawar tak lagi merah. Layu menjadi cakar bagi hatinya. Janganlah kau  menebar kasih pada setiap rembes hujan di hujung cerucuk atap. Seusai pagi merekah, aku nanar dalam menyimpul sikap. Bagaimana hausku rembes terlalu dini.


Siapa yang akan menolak binar matamu untuk bernyawa dalam mataku?

Cintamani


Tatkala blekok tengah asyik makan ikan
Seorang tua ringkih yang bersimbah peluh itu
Mengusap peluhnya dengan belacu
Ah, sudahlah

Baru sejengkal menit berlalu
Berbanyol ria di tanah garapan
Oh adinda, indah nian bumi pertiwi
Senang mengawani dinda di sini

Adinda, lihatlah bayangan aku-kamu di air itu
Air tak beriak, hawa yang damai, binatang yang berkawan
Aku yakin semesta turut meridhoi

Kan kakanda jemput dinda di pelabuhan kasih

Sabtu Malam


Senja merangkak menuju malam
Hitam nan kelam
Roman muka yang bertalu-talu menghujam masuk
Derap gerimis dengan pongahnya mengayun ambung
Ini dilema bagai buah simalakama
Dimakan pahit, dibuang sayang
Dinikmati pedih, dilupakan enggan

Berkutat pada riuh rendah angin malam di luar sana
Anganku berontak memang sableng
Bimbang, gelisah, gundah gulana
Aku ini  si pengais puing-puing kenangan
Aku ini yang tak mampu menyemai benih rindu di ladangmu
Kau tancapkan akar liar di sajakku
Melesak dalam seperti menggodot ranah hati

Biar ku titipkan rasa ini pada batu
Biar hujan yang bertanggung jawab
Mengikis batu hingga lenyap
Kini malampun kian larut
Pohon-pohon membisu jaga ketenangan
Kunang-kunang yang berbinar di balik jendela

Mengantarku tidur di pelabuhan bantal golek

Berlayar ke Tepian



    “Kita cerai!”, Ayah membentak. Talak tiga sudah.Ya, itu adalah peristiwa enam tahun lalu ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas tiga. Aku adalah anak broken home yang masih terlalu muda untuk menjadi tulang punggung keluarga.

        Kesulitan ekonomi mulai melanda keluarga kami setelah satu tahun si kutu kupret itu meninggalkan Ibu. Aku memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu Ibu mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan untuk menyekolahkan adikku. Ada perasaan menyesal memang, ketika aku tidak bisa seperti teman-temanku yang melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Tetapi Ibuku hanyalah seorang pekerja serabutan yang gajinya pas-pasan dan tubuhnya yang mulai ringkih membuatku tak tega melihatnya. Maklum usianya sudah menginjak setengah abad.
        Aku benci Ayah. Mengapa Ia lebih memilih wanita jalang itu daripada Ibu yang lemah lembut dan cantik menawan bagiku. Semenjak persidangan, Ibu tidak pernah terlihat menitikkan air mata setetes pun. Mungkin Ibu hanya menangis di dalam toilet di bawah pancuran air shower. Sehingga air matanya mengalir bersama dengan tetesan air shower tanpa terlihat sedikit pun. Ibu memang wanita yang tegar.
        Adikku Halmer adalah satu-satunya harapan keluarga. Halmer sekarang berumur 16 tahun. Syukurlah aku dan Ibu masih sanggup membiayai sekolahnya sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Sempat aku berpikir bahwa hidupnya pasti akan lebih mujur daripada kakaknya.
        Aku dan Ibu bekerja mati-matian untuk menafkahi keluarga. Mulai dari pembantu rumah tangga, tukang bangunan, tukang parkir, bahkan buruh pasarpun pernah aku jalani. Sedangkan Ibu hanya bekerjadi rumahsambil membuka jasa menyetrika baju karena memang aku yang memintanya begitu. Berkali-kali aku bergonta-ganti pekerjaan. Bukan karena kualitas kerjaku yang buruk lalu dipecat atasan, tetapi karena aku berusaha mencari penghasilan yang lebih besar sebisa mungkin demi adikku. Beberapa kali aku mulai putus asa dan menyerah karena letih dipundakku tak bosan-bosannya bertengger. Jalan hidup yang kulalui terasa berat dan abstrak. Sulit dilalui oleh aku yang masih berusia 20 tahun tanpa ijazah SMA berkeliaran di jalan untuk mencari secercah harapan hidup.
        Sampai pada suatu hari keterpurukan menerjang keluarga kami. Ibu sakit dan harus istirahat yang cukup. Kini hanya aku yang benar-benar harus menantang hidup. Menaikkan topi dan… “Prit! Prit!!!”, peluit kutiup sembari mengatur keluar masuknya kendaraan di sebuah pusat perbelanjaan. Aku harus menegakkan tulang belakangku dan kembali tegap memandang ke depan.

* * *
                                          
Aku sempat melalui hidupku dengan menggelandang di jalanan. Sedang apa? Ya, aku menggoyang-goyangkan kicrikan sambil menengadahkan satu tanganku sembari menyambangi kendaraan satu dan kendaraan lainnya. Aku mengamen saat tengah hari bolong. Keringat bercucuran dan asap kendaraan pun menerjang mukaku bertubi-tubi. Seharian aku menghabiskan waktu di sekitaran lampu Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) dan beberapa kali mengistirahatkan tubuhku di bawah pohon ditemani semilir angin yang menenangkan.
Tak terasa hari sudah mulai sore, aku berjalan pulang ke rumah untuk menyetor uang pada Ibu. Di jalan aku melihat segerombolan anak geng sedang tertawa terkekeh-kekeh, sepertinya mereka sedang melakukan sesuatu yang cukup privasi. Satu orang pergi meninggalkan gerombolan itu dengan membawa sesuatu yang dibungkus rapat. Aku terus berjalan tanpa melengoh ke arah mereka sedikit pun. Aku diam saja melewati mereka. Tetapi langkahku terhenti setelah sebuah tepukan mendarat di pundakku. Aku menoleh.
“Ini untukmu”, katanya.
“Apa ini?”, aku menanggapi mereka dengan perasaan bingung mengapa aku meladeni orang yang tidak kukenal ini.
“Kelihatannya kamu sedang lelah, mungkin kamu perlu ini. Coba rasakan ini, kamu akan merasa bebas dari semua masalah yang mengikatmu”
Aku menerimanya dan berlari pulang.
Sesampainya di rumah aku langsung menyetor uang kepada Ibu dan masuk kamar. Aku mengunci diri dalam kamar. Aku menggerayangi saku celana dan mengambil benda yang diberikan lelaki tadi. Bentuknya pil. Tanpa perlu pikir panjang, aku pun langsung meminumnya satu buah karena penasaran.
Keesokan harinya aku kembali mengamen di tempat biasa. Setengah hari sudah aku mondar-mandir di antara mobil dan sepeda motor. Seperti biasa aku selalu disinisi oleh para pengendara yang berhenti di sekitar lampu APILL itu. Terik mulai menggelitik kulitku. Aku menuju pohon yang rindang untuk beristirahat. Tiba-tiba seseorang yang kemarin memberiku obat datang menghampiriku dan menawarkanku untuk menjual obat itu. Aku setuju karena aku akan diberinya uang. Aku mulai menjual obat itu dengan mengiming-imingi orang lain bahwa obat itu manjur untuk menjaga spirit tetap optimal. Padahal aku sendiri kurang paham obat apakah itu. Aku mulai menipu, membual, dan mengumbar 1001 kebohongan di mana-mana.
Suatu saat aku sadar dari keterlenaanku akan uang yang aku peroleh. Aku baru mengetahui bahwa obat itu adalah narkoba ketika salah seorang pelangganku menuduhku menjual obat yang telah membuat Ia kecanduan. Tetapi aku tidak tahu sama sekali!. Tampilan obat itu begitu meyakinkan di balik kedok busuknya.
Perasaanku bergejolak, aku gelisah dengan kebodohan yang selama ini aku perbuat. Ibu dan adik bahkan tidak tahu bahwa aku melakukan pekerjaan kotor yang selama ini aku perbuat. Untung saja aku hanya meminumnya satu hanya sekedar untuk mencicipi, pikirku. Aku heran mengapa aku tidak kecanduan. Mungkin obat itu hasil oplosan dengan obat lain yang sering dijual di pasaran. Atau orang itu telah membodohiku?, aku bergumam.
Perasaanku seolah amburadul dikoyak arus sungai yang deras. Tidak dapat dipungkiri bahwa aku telah menjadi seorang bandar. Ya, bandar narkoba.

* * *

Siang hari ketika aku berjalan di sepanjang trotoar, aku melihat beberapa polisi berlari ke arahku.
“Angkat tangan!”, seru salah seorang polisi.
Aku tersontak mengangkat tangan, terpaku, dan melotot ketakutan. Aku tahu orang-orang di sekitarku pasti terkejut. Aku ditangkap. Salah seorang pembeli obatku mungkin telah melaporkanku ke polisi. Tanganku diborgol. Aku diangkut mobil polisi. Aku hanya menunduk malu dan teringat Ibu dan adik yang ku tinggalkan. Mungkin mereka sedang cemas dan ketar-ketir menungguku di rumah.
        “Sudah berapa lama Anda menjadi pengedar narkoba?”,  tanya polisi itu.
“Dua bulan, Pak.” Aku mencoba berusaha jujur untuk mempertanggungjawabkan segala kesalahanku.
“Narkoba bentuk apa yang Anda jual?”
“Pil”,  jawabku lirih.
Aku dihujani berbagai macam pertanyaan menyelidik. Berkat kejujuranku, kini aku masuk jeruji besi dan tinggal bersama tawanan lain. Aku divonis 2,5 tahun penjara. Aku marah pada diriku sendiri dan orang lain. Geram. Mengapa hal ini terjadi padaku? Mengapa aku mau menerima tawaran anggota geng itu? Mengapa mereka tega menjebakku? Cobaan ini begitu berat dan pedih.
Beberapa hari kemudian Ibu dan adik menjengukku di rumah tahanan. Mereka menyaksikanku tak berdaya sedang memegangi jeruji besi sambil meratap di antara celah jeruji. Aku melihat Halmer menangis. Aku tidak tahu apakah itu tangisan kerinduan ataukah yang lain. Tangisan itu telah menyentuh hati dan membuka mata batinku. Aku pun tergerak untuk berubah.
Mimpi itu memang terlihatnya jauh jika kita tidak berusaha. Selama di penjara aku banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Aku membaca sekitar 15 buku dalam sehari. Aku melalui hari-hariku dengan membaca dan membaca. Selain membaca aku juga menulis dan mencoba untuk menyusun buku.
tumblr_lwv12u3eNP1r81w6co1_400_large.jpg
* * *

        Aku telah membaca sekitar 90% dari 3.000 buku yang ada di perpustakaan dan berhasil menyelesaikan tujuh buku. Setelah 2,5 tahun berlalu, akhirnya aku bebas dan bisa bernapas lega.
        Ibu dan adikku pasti sedang menungguku di rumah. Setibanya di rumah, aku menghampiri Ibu dan bersujud di bawah kakinya untuk meminta maaf. Senang mengetahui bahwa Halmer telah menyelesaikan sekolahnya.
        Keesokan harinya, aku mendatangi penerbit untuk menawarkan bukuku. Sayang aku ditolak. Aku mencari penerbit lain dengan tujuan yang sama, namun aku ditolak lagi karena latar belakangku yang hanya seorang tamatan SMP dan mantan narapidana.
        Sampai suatu ketika aku bertemu dengan seorang penerbit yang tertarik dengan bukuku dan bukuku pun berhasil diterbitkan. Aku bersyukur.
        Lalu aku pergi ke suatu sungai terdekat untuk merilekskan pikiran. Aku memejamkan mata dan berkata dalam hati, “Walaupun gelap dan dalam, walaupun arusnya deras, walau tak berjalan baik, dan walau terkadang tenggelam, tetapi kini aku telah menemukan tepian dan aku telah sampai.”
        Aku bersyukur karena penjara telah menjadi sebuah batu lompatan bagiku untuk menemukan jalanku. Tuhan telah merencanakan sesuatu yang indah dan tak pernah kubayangkan. Aku melihat batu di bawah kakiku dan mengambilnya satu. Aku memegangnya erat dan melemparkannya jauh-jauh. Lalu aku merentangkan tangan dan berteriak, ”Batu yang telah kulemparkan akan mengabulkan impian!” Bahkan suara jatuhnya pun tak terdengar.
        Aku teringat ketika aku masih SMP, aku selalu mendapatkan nilai yang baik di kelas sastra. Sekarang aku dapat membuktikan bahwa seorang tamatan SMP dan mantan narapidana pun bisa menggapai impiannya. Asal Ia mempunyai tekad yang besar dan mau berusaha.
        Akhirnya dari omzet penjualan bukuku, aku bisa mengangkat derajat keluargaku untuk menebus masa lalu yang kelam. Aku juga mendirikan sebuah yayasan sosial untuk menampung anak-anak jalanan, mantan napi, dan anak yatim. Berkat yayasan itu aku pun banyak mendapatkan penghargaan. Aku juga telah mengejar paket B untuk mendapatkan ijazah SMA. Sekarang aku telah diangkat sebagai Ketua Granat (Gerakan Nasional Anti Narkoba) dan aku Nathan Jayden tak akan pernah berhenti untuk menulis. Ini untuk Ibu dan Halmer.





TAMAT

Keluarga Madison

             

             Pagi itu 31 Desember 2012, terlihat kesibukan dari Keluarga Madison yang sedang mempersiapkan rumah barunya agar segera dapat ditempati. Keluarga Madison bertransmigrasi dari luar Jawa. Mereka harus pindah karena Bapak Madison dipindahtugaskan ke pulau Jawa. Kini mereka menetap di desa yang bisa dibilang cukup terpencil, jauh dari hiruk pikuk orang berlalu lalang, jauh dari suara bising kendaraan, juga terbebas dari polusi udara. Di rumah barunya mereka akan memulai lembaran-lembaran baru dalam hidup mereka. Dilihat dari rumah serta luas tanah, Keluarga Madison bisa digolongkan dalam penduduk ekonomi atas.
        Keluarga Madison terdiri dari empat orang anggota keluarga. Louis adalah putra pertama dari pasangan Bapak dan Ibu Madison yang menikah sekitar tahun 2002. Louis berumur delapan tahun. Louis adalah anak yang pendiam. Dengan Ibunya sendiri saja Ia jarang berbincang-bincang. Sekilas Ia memang terlihat seperti anak-anak normal pada umumnya. Namun di balik itu semua, Ia memiliki keanehan. Ia tidak suka berlama-lama berada di bawah paparan sinar matahari. Setiap keluar rumah Ia selalu mengenakan jaket, topi, kaus kaki mencapai lutut, juga sepatu catnya.
         Ibu Madison tidak seperti “tante-tante sosialita” yang sering berpesta pora, foya-foya, serta berkumpul dengan teman-teman sederajat atau berpangkat. Ibu Madison tidak pernah terlihat pergi ke mall atau tempat-tempat merawat dan mempercantik diri. Ia juga sama anehnya di mata para tetangganya. Ia tidak pernah keluar rumah untuk sekedar membeli stok bahan makanan atau kebutuhan dapur lainnya di tukang sayur yang sering lewat saat pagi hari. Jika ingin membeli sesuatu Ia pasti meminta tolong pada anaknya, Louis. Ibu Madison hanya keluar di sore hari saat senja mulai menyongsong dan akan kembali beberapa saat setelah suaminya pulang dari kantor. Ibu Madison pergi dengan menggunakan mobil pribadinya yang dulu Ia beli ketika Ia masih menjadi seorang wanita karier. Namun sejak Ia melahirkan Eleanor, Ia memutuskan untuk menjadi seorang Ibu Rumah Tangga. Ia sering pergi ke pantai untuk menenangkan diri.
         Bapak Madison adalah sesosok ayah yang rajin dan disiplin. Dengar-dengar berkat kekreativitasannya Ia menduduki jabatan yang dibilang cukup tersohor dan disegani karyawan lain. Untuk masalah gaji sudah tidak diragukan lagi. Bapak Madison selalu sampai di kantor tepat pada waktunya. Padahal jarak antara rumah dan kantornya terbilang cukup jauh. Ia selalu berpenampilan rapi, bersih, juga menawan dengan postur tubuh yang dapat membuat Ibu-Ibu PKK terpesona dan menggigit jari. Setiap pagi Bapak Madison selalu mengendarai mobil sedannya untuk berangkat bekerja dan akan pulang sekitar jam enam sore.
         Louis memunyai seorang adik perempuan yang bernama Eleanor. Eleanor berumur enam tahun. Eleanor adalah seorang anak yang autis dan selalu dianggap menyusahkan Keluarga Madison. Hampir setiap hari Ia mengamuk tidak karuan dan membuat keadaan di rumah semakin kacau. Mungkin dengan mengamuk Ia berusaha menunjukkan ketidaksukaannya pada sikap Ibu Madison terhadapnya. Beberapa tetangganya kerap kali mendengar Eleanor menangis dan menjerit-jerit kesetanan. Namun jerit tangis itu hanya terdengar ketika Bapak Madison sedang tidak ada di rumah. Hal itu membuat beberapa tetangganya berprasangka buruk bahwa telah terjadi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Keluarga Madison.
           Louis berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki namun kadang mengendarai sepeda. Louis terkenal sebagai anak yang cerdas. Ia sangat menyukai sastra, politik, dan sejarah. Ia adalah anak yang unik. Biarpun umurnya masih belia tetapi pemikirannya sudah seperti pemikiran orang dewasa. Di usianya yang masih delapan tahun, kini Ia sudah duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Ia pernah loncat kelas karena dianggap telah menguasai pelajaran kakak kelasnya. Terbukti di sekolah barunya, Ia dapat dengan cepat menangkap pelajaran. Tampaknya Ia tidak menemukan kesulitan sekecil apapun dalam belajarnya.
            Sejak kecil Louis memang sudah dimasukkan ke suatu Lembaga Bimbingan Belajar untuk mengikuti bermacam-macam les dari hari Senin sampai Sabtu. Di usianya yang masih sangat muda Ia sudah disibukkan dengan berbagai macam aktivitas. Biarpun semua itu baik baginya, tetapi jika terlalu diforsir hal tersebut dapat mengurangi waktunya untuk bermain layaknya anak-anak seusianya. Ia hanya memunyai waktu senggang di hari Minggu. Itupun hanya Ia isi dengan bermain-main di tanah kosong sebelah rumahnya. Tentunya saat hujan turun saja Ia bermain. Disaat teman-teman sebayanya dilarang keluar untuk bermain oleh orang tuanya, Louis malah asyik bermain seorang diri. Ia begitu menyukai hujan. Ia seringkali bersenandung dalam sebuah puisi.
Hujan
Hujan tumbuh dalam ingatanku
Beranak cucu dan meracuni darahku
Hujan menyeduhkanku rindu dalam secangkir kopi
Menggigil di bibirku
Terbenam bersama Eyang Senja
Bernapas dalam sajakku
Bermalam dalam napasku
Bermain-main di kuncup mataku
Begadang dalam lidah doa
Dan terlelap juga dalam senandung angin sapu-sapu
Hujan terkempit di sela ketiak
Atau Ia sedang berputar-putar di pusarmu?
Rupanya si hujan sedang terkurung dalam tahilalatmu
Jatuh di helaian rambutmu yang oleng
Mewabah di jantungku
Menjadi musibah dalam benakmu
Aku percaya hujan akan mengguyur hati Ibu yang amarah
¤¤¤
            Setelah puas bermain hujan, Louis langsung membersihkan dirinya lalu mengerjakan pekerjaan rumah dan beristirahat.
        Louis memunyai alasan tersendiri mengapa Ia lebih memilih disibukkan dengan berbagai macam aktivitas yang selama ini sedikit merenggut kebahagiaan masa kecilnya daripada Ia harus berlama-lama berada di rumah. Louis tidak terlalu menyukai Ibunya. Ibu Madison terlihat menyeramkan di matanya.       Semenjak Louis berumur 6 tahun, Louis merasakan perubahan sikap yang sangat drastis dalam diri Ibunya. Ibu Madison tidak sepeduli dulu pada Louis. Sebenarnya Louis ingin sekali melihat keluarganya kembali seperti sedia kala. Bahkan sempat terlintas di benak Louis andaikan saja Eleanor tidak pernah dilahirkan atau setidaknya tidak terlahir autis seperti itu. Namun biar bagaimanapun juga, Louis menyayangi adik perempuannya, Eleanor.
            Louis merasa bahwa kini Ibu Madison sama sekali tidak memiliki sifat keibuan dan sifat penyayang seperti Ibu-Ibu lain yang selalu mengecup anaknya dalam sepenggal doa. Mungkin hanya satu kebaikan Ibunya yang selama ini Ia rasakan yaitu saat Ibunya menyiapkan bekal sarapan untuknya. Louis selalu beranggapan bahwa Ibu Madison sangat membencinya dan setiap kali Ibunya memarahi adiknya, Eleanor. Ia terlihat layaknya seperti seorang monster yang siap memangsa musuh dalam cakarnya.
           Setiap pulang sekolah Louis selalu membawa kunci sendiri karena Ia tahu bahwa Ibunya sedang tidak ada di rumah. Ia langsung buru-buru menuju dapur untuk mengambil makanan dan minuman di lemari pendingin. Ia segera menuju kamarnya dan mengunci rapat-rapat pintu kamarnya. Ia banyak menghabiskan waktu di kamarnya dan baru akan keluar saat orang tuanya sudah memanggilnya untuk makan malam bersama.
            Saat makan malam berlangsung pun semua anggota keluarga tidak banyak omong dan canda tawa layaknya keluarga yang harmonis. Keadaan begitu hening. Bapak Madison memang terlihat ramah tetapi Ia tidak suka bercanda atau sekedar asal menyeletuk. Ia memang terlalu serius terhadap pekerjaannya sehingga berpengaruh juga dalam sikap di hidup kesehariannya. Namun pernah Bapak Madison membuka percakapan singkat dengan Louis hanya sekedar untuk menanyakan mengenai sekolah barunya atau teman barunya.
          Ibu Madison hanya diam, menunduk, dan fokus pada hidangan makan malamnya. Ia jarang tersenyum. Padahal dulu Ia adalah seorang wanita yang dikenal dengan lesung pipinya yang menggemaskan. Namun kini lesung pipi itu bagaikan hilang ditelan bumi.           
            Heningnya meja makan pecah ketika Eleanor yang duduk di samping Ayah makan dengan lahapnya sembari mengeluarkan bunyi sendok dan piring yang saling beradu dan menimbulkan suara gaduh. Nasi yang berlepotan di sekitar mulut Eleanor juga berserakan di meja makan menjadi pemandangan yang kurang mengenakkan untuk dipandang. Belum lagi ditambah dengan tampangnya yang plonga-plongo seperti orang dungu semakin memantapkan skenarionya sebagai anak autis.
            Louis sudah selesai makan. Ia pamit terlebih dahulu ke kamarnya untuk tidur. Louis berbicara kecil, “Entah bagaimana nanti Ibu akan membujuk Eleanor masuk kamar. Mencubitinya atau bahkan menyeretnya secara paksa”. Itulah alasan mengapa Louis selalu masuk kamar lebih dulu. Ia tidak tega saat melihat adiknya diperlakukan secara kasar oleh Ibunya. Louis juga tidak pernah mengerti alasan mengapa Ayahnya hanya diam saja saat mendengar anak perempuannya berteriak kesakitan. Pernah Louis bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah Ayah diancam oleh Ibu atau malah Ayah berada di pihak Ibu?” Itulah pertanyaan yang tidak pernah terjawab olehnya sejak adiknya Eleanor berumur 4 tahun hingga kini Ia berumur 6 tahun.
            Keluarga Madison sering menjadi bahan pergunjingan warga setempat karena tingkah laku mereka yang janggal. Bahkan sempat tersebar kabar bahwa Ibu Madison adalah seorang pecandu obat-obat terlarang yang telah merubah sikapnya menjadi semakin tempramental terhadap kedua anaknya dari hari ke hari. Para warga juga mengira bahwa Keluarga Madison pindah ke desa terpencil tersebut karena mereka sedang menjadi buronan polisi.
            Selama kurang lebih dua bulan lamanya, semua terlihat biasa-biasa saja dan tidak ada protes dari warga secara langsung.
¤¤¤
            Sampai pada suatu ketika terjadilah kejadian yang sangat mencengangkan warga. Pada malam hari salah seorang warga melihat Ibu Madison sedang mengubur sesuatu yang dibungkus kantong plastik hitam berukuran besar. Ibu Madison terlihat terengah-engah saat menimbun kantong plastik itu. Warga tersebut tidak menghampiri Ibu Madison, tetapi Ia langsung melaporkan kejadian itu ke ketua RT.
            Pada keesokan harinya, setelah Bapak Madison dan Louis berangkat ke kantor dan ke sekolah. Para warga berdatangan. Warga berdemo ramai-ramai. Para warga mendobrak paksa pagar rumah Keluarga Madison. Beberapa warga ada yang menggali timbunan itu. Warga mendapati kantong hitam itu berisikan mayat Eleanor. Para warga tercengang melihat tubuh Eleanor yang sudah terbujur kaku. Warga langsung menerobos masuk pintu rumah Keluarga Madison. Di sana terlihat Ibu Madison sedang jongkok ketakutan. Rupanya Ia telah menelepon suaminya untuk segera pulang sebelum para warga menggali timbunan itu. Ibu Madison menangis dan mengaku bahwa suaminyalah yang telah membunuh Eleanor ketika semua anggota keluarga sudah tertidur pulas.
        Suaminya telah membekap mulut Eleanor dan menekan wajahnya dengan bantal hingga Eleanor berhenti bernapas. Ibu Madison mengatakan bahwa suaminya melakukan hal itu karena Eleanor terus bertingkah dan tidak mau diam. Ia hanya disuruh suaminya untuk menguburkan jasad Eleanor di tanah kosong sebelah rumahnya. Tak lama kemudian Bapak Madison tiba di rumahnya. Ia mendapati banyak warga berkerumun, dua buah mobil polisi terparkir di depan rumahnya, dan police line yang dipasang mengitari tanah yang digali. Bapak Madison langsung dibawa oleh polisi ke kantor polisi. Para warga banyak yang tidak menyangka bahwa sosok Bapak Madison yang selama ini mereka anggap ramah ternyata Ia adalah seorang pembunuh. Jasad Eleanor pun rencananya akan dikebumikan di tempat yang layak esok harinya.
         Saat Louis pulang dari sekolah, Ia kaget dan sedikit takut karena melihat bahwa sore itu Ibunya sedang berada di rumah. Saat Louis hendak menuju kamarnya Ibunya berkata, “Bapakmu dipenjara”. Langkah Louis terhenti dengan mata yang melotot. Namun Louis tanpa membalikkan badan terus berjalan menuju kamarnya karena Ia tahu bahwa Ibunya pasti hanya bercanda.
            “Siang ini kita makan roti saja. Uang Ibu sudah habis untuk membeli peti mati untuk adikmu”, kata Ibu Madison.
            “Ibu ini bicara apa? Apa yang Ibu katakan tadi benar?”, sela Louis.
              “Sudah, makanlah dulu. Bapakmu itu pembunuh! Ia telah membunuh adikmu Eleanor”, jawab Ibu Madison ketus.
                          “Tidak mungkin! Ayah orang yang baik! Justru Ibu yang selama ini kasar pada Eleanor!”, Louis masih membela Ayahnya.
              “Berhentilah mengoceh atau kamu juga akan menyusul adikmu!”, ancam Ibunya
              “Jangan kira aku tidak tahu kalau selama ini Ibu selalu menyekap Eleanor di ruangan seberang kamarku saat Ibu pergi!”, jawab Louis dengan penuh emosi.
              “Sepertinya kamu tahu banyak ya mengenai rahasia Ibu? Kalau begitu jangan salahkan Ibu jika pisau ini menancap di tubuhmu”, kata Ibunya sambil menampakkan kekesalannya.
Namun nasi telah menjadi bubur. Rasa emosi Ibu Madison mampu mengalahkan rasa sayangnya pada Louis. Pisau pun terlanjur tertancap dan tepat mengenai jantung Louis.
   Beberapa saat kemudian, salah seorang tetangga menemukan Louis sudah tergeletak berlumuran darah di tanah kosong di samping rumah Keluarga Madison. Tetangganya tersebut berteriak minta tolong dan segera menghubungi polisi dan Rumah Sakit. Para warga, polisi, juga ambulan segera berdatangan ke lokasi kejadian. Polisi tidak menemukan seorang pun di dalam rumah Keluarga Madison. Beberapa saat kemudian anak buah polisi tersebut mendapat telepon dari Kepala Kantor Polisi setempat dan mendapat kabar bahwa tersangka pembunuhan, yakni Ibu Madison telah menyerahkan diri ke polisi dan telah terbukti bersalah.
Ketika melewati sel tahanan suaminya, Ibu Madison menyerahkan sepucuk surat yang bertuliskan:
“Ibu telah mengirimkan kedua anak kita ke Surga, Pa”.
             

The End