Melihat jingga di matamu adalah kekaguman paling romantis dari seorang pria sepertiku
Duduk di pesisir sini sembari melontarkan banyolan
agar kau tertawa wahai pujaan
Kemudian aku bisa melihat mata yang berseri dan ranum
Seakan-akan siap untuk menghasilkan butiran-butiran cahaya
Pantulan cahaya jingga itu akhirnya jatuh dan membasuh kekeringan hati ini
Katanya puisi bisa jauh lebih menghebatkan perbendaharaan kata yang ada di KBBI. Aku percaya itu.
Senin, 27 Juli 2015
Kamis, 25 Juni 2015
Lima Belas Poin dari Si Penulis
1. Siapa aku yang hanya bisa menulis hingga renta
2. Mengilhami
tangan ini untuk melabuhkan sederet imajinasi
3. Bicara cinta,
hidup, maupun yang empunya hidup
4. Siapa aku yang
bukan aktivis akapela di kapel sang Maha puisi
5. Dari sini.
6. Kita dapat
menafsirkan kata yang tak sempat tersentuh
7. Meluruskan
kata yang khilaf
8. Menambah perbendaharaan kata untuk si ‘tukang perintah’
9. Yang mungkin
terkadang sudah tak berjeroan lagi
10. Tapi diri ini menolak lupa
11. Kelompok sejenis kami ini banyak
12. Aku menyukai tata eksterior yang dapat mengoyak hati
13. Sering disalahkan karena kata yang kerap melebamkan
mata
14. Mungkin terlalu cepat, tapi aku ingin berhenti saja
di angka lima belas
15. Namun diri ini tak akan pernah berhenti untuk
mendendangkan kata-kata
Wajah Kehidupan
Pergi berjalan melipir di sisi
hidup ini, licin bagai permainan air di waterboom.
Kita adalah orang yang sering
tergelincir masuk dan mendapati ruang gelap yang buntu.
Di sana kita bisa mencium wangi
tata kota yang sumpek dengan segala benda estetis di atasnya.
Mereka lucu.
Tinggal menyempil-nyempil di
suatu bidang yang sudah jengah ditinggali.
Persegi. Kenapa ku katakan
begitu? Karena memang tiada atap penutup di atasnya.
Bukanlah benda bervolume yang
kau tahu selayaknya.
Kita bukan bagian dari mereka.
Tapi tidakkan rasa iba mencuat dari benakmu?
Pernahkah pikiranmu menjamah
kehidupan mereka?
Kita bisa saja terjerembab
masuk lebih dalam dan sulit kembali.
Hidup seperti roda. Terus
berputar.
Kita adalah kusir yang harus
pandai-pandai dalam menjalani roda kehidupan ini.
Wanita Setengah Baya Itu
Wanita setengah baya itu
Punya rambut enggan memutih
Beliau selalu mewanti-wanti
dengan nasihat yang hampir membludak di otakku
Tak ada kejengahan yang muncul ke permukaan
Kaki itu berdiri sendiri tanpa ada bayangan yang menyokong
Hanya ada sebongkah peluh perengus
dan ambisi yang dikejar semangat
Beliaulah tumpuan kami
Tempat dimana aku mengadu
Setiap perli biarlah terhapus sapuan angin, Nak
Beliau membelaku sampai titik darah penghabisan
Beliaulah tonggak penyangga
Karena tangan-tangannya akan menghempas bandit-bandit hingga binasa
Punya rambut enggan memutih
Beliau selalu mewanti-wanti
dengan nasihat yang hampir membludak di otakku
Tak ada kejengahan yang muncul ke permukaan
Kaki itu berdiri sendiri tanpa ada bayangan yang menyokong
Hanya ada sebongkah peluh perengus
dan ambisi yang dikejar semangat
Beliaulah tumpuan kami
Tempat dimana aku mengadu
Setiap perli biarlah terhapus sapuan angin, Nak
Beliau membelaku sampai titik darah penghabisan
Beliaulah tonggak penyangga
Karena tangan-tangannya akan menghempas bandit-bandit hingga binasa
Segenggam Tekad Memburu Ambisi
Saya
ini marhaenis
Hati saya matematis
Seluruh saya tiada pamrih
Haluan saya tiada cikar
Janganlah ada sangsi terhadap sahaya
Yakinlah akan cinta yang mendarah daging ini
tak pernah susut lebih-lebih terurai
Saya bukan berdarah bali
Terus berjuang tanpa gentar
Sahayalah calon minantu idaman
Kendati sahaya tak punya uang segepok
Meski maskawin tiada bertafsir
Tapi cinta sahaya 'kan berkenan
Tak kan lapuk meski kalender berkali-kali berganti
Hati saya matematis
Seluruh saya tiada pamrih
Haluan saya tiada cikar
Janganlah ada sangsi terhadap sahaya
Yakinlah akan cinta yang mendarah daging ini
tak pernah susut lebih-lebih terurai
Saya bukan berdarah bali
Terus berjuang tanpa gentar
Sahayalah calon minantu idaman
Kendati sahaya tak punya uang segepok
Meski maskawin tiada bertafsir
Tapi cinta sahaya 'kan berkenan
Tak kan lapuk meski kalender berkali-kali berganti
Gila
Saya bisa saja jadi seniman
Saya menyeringai, orang heran
Saya manyun, orang
kepingkel-pingkel
Punya topeng jago akting
Ya ampun, apa ya mereka heran
dengan style saya?
Rambut gimbal menjuntai
Tapi saya bukan anak bajang
Bukan anak reggae
Bukan pula titipan Nyi Ratu
atau titisan Mbah Kolodite
Rombeng-rombeng itu asyik kan?
Tuhan saja maha asyik
Saya ini citraan-Nya
Saya duduk di dipan
Memilin rambut sambil cari
serangga penghisap darah
Weladalah
Saya malah diusir sama yang
punya dipan
Saya itu hidup menggelandang
Anak emperan
Suka cengar-cengir santai
Bingung setengah buntu saudara.
Beberapa orang meneriaki saya 'orang gila'
Carut Marut Puisi
Karya : Birgita Olimphia Nelsye dan Elisabet Olimphia Selsyi
Jam karet mendetik, menyeret
jarumnya
Arloji patah hati dan baterai
yang nyaris mati
Kami tidak punya puisi untuk
sahur nanti
Hanya kedelai beragi dan nasi
yang hamper basi
Dan segelas air tuba yang
menggondok
Seorang laknat dari jalanan kota
Menahan amarah dalam pingitan
Rakyat jelata sambat sana-sini
Mengaduh kenaikan harga barang
Maunya serba bersubsidi
Bulan Ramadhan bulan yang gemar
dandan
Maklum sebentar lagi lebaran
Bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan permulaan
Janganlah engkau minta cinta pada
penyair,
Tetapi mintalah pada Allah, sang
pemberi hidup
Terik menarik matahari
keubun-ubun
Kami mengisi lambung dengan
dahaga sendiri
Menghindari kemewahan duniawi
Peluh mengeluh jatuh ke baju
Menikmati debu jalanan
Hari ini aku pulang kelewat waktu
Lebih petang dari gembala pulang
merumput
Bedug digebuk,
Membuka telinga orang bebal
Kepala keluarga memimpin doa
Puasa dan Puisi
Bulan sabit muda pertama sudah
ketara
Sidang Isbat paripurna
Jamaah menyambangi surau
Tarawih pertama di bulan suci
Kita punya saja kuntuk sahur
Angin menyapu gerimis,
Dan lapar yang nyaris pesimis
Menit dan menit lainnya dikuncir
Pendakwah memenuhi stasiun
televisi
Mengambil jatah gaji selebriti
Anak-anak pulang mengaji
Menunggu burit disambi cekikikan
Langit mulai usang
Matahari meninggalkan sinar di
ufuk
Gugusan planet membersihkan
jejaknya
Langit berganti sesi
Ayam-ayam mulai rabun
Kami menyeduh puisi dalam
secangkir teh
Nasi garing dan sambal terasi
menanti
Demi isi ulang energiLalu Hujan Deras Sekali (dengan sedikit gubahan)
Karya: Birgita Olimphia Nelsye & Elisabet Olimphia Selsyi
Dinihari ialah seni mengingat; satire yang
tumbuh di bibir-bibir para pencibir.
Sore
itu, kau adalah berita dalam televisi yang mudah diduga bagaimana akhirnya,
sementara aku penonton setia sebab kadang-kadang terlalu banyak pilihan sama
dengan tak ada pilihan lain. Secara saksama, kudengar-lihat bagaimana kau
memberitakan kronologi peristiwa yang kau tolak sebagai repetisi dan peranku
bertambah satu di sini—penonton yang seolah bodoh dan harus tercengang
menyaksikan siaran kabar tentang kejadian tipikal.
Kau
selalu memulai dengan cara yang itu-itu lagi. Pertama, kau akan menyampaikan
prolog membosankan tentang bagaimana kau bertemu mantan kekasihmu. Kedua,
dengan sangat berbinar, kau ungkit segala baik dan mengabaikan keburukan yang
lebih banyak kau telan darinya. Ketiga, seperti biasa kau akan menutupnya
dengan pertanyaan, “Mengapa ia tega meninggalkan aku?”
Kemudian,
bagian yang telah kuhafal, kau akan menatap langit ruangan dengan pendar matamu
yang berperan sebagai sepasang mata paling terluka di dunia. Lalu tangismu
pecah disusul pertanyaan-pertanyaan sialan, “Apakah aku terlalu gemuk untuknya?
Apakah aku lawan bicara yang membosankan? Kalau iya, apa sebabnya? Mengapa ia
bertingkah tak peduli atas segala kepedulianku padanya? Apakah aku tak tampak
menarik? Apakah aku harus melakukan operasi plastik?”
Begitulah
kau, bertahun-tahun menjadikan aku tempat bersandar saat kau merasa harus
menangis sembari mempertanyakan adakah yang mau dan mampu menerima apapun
adanya dirimu. Beginilah aku, bertahun-tahun mengusap air matamu yang
sesungguhnya tak perlu kau tumpahkan. Andai kau tahu bagaimana aku telah
menerimamu sebaik ibu menerima kehadiran anaknya lengkap dengan segala
kenakalannya. Aku ingin menjadi seorang pelukis yang mengenal wajahmu hanya
dengan melihat, bukan meraba seperti orang buta.
Begitulah
kau, bertahun-tahun tak juga membuatmu merasa cukup. Bahwa sempurna bukanlah hal
yang dapat kau kecup. Bahwa saat kau terluka, hatikulah yang satu-satunya
kuncup. Beginilah aku, bertahun-tahun tak pernah kau baca. Mungkin halaman
terakhirku telah melipat dirinya sendiri sebagai pertanda bahwa segalanya
mengenal sudah – dengan atau tanpa akhir bahagia.
Setelah
air matamu kering, seperti biasa kau mengantarku pulang dan tak pernah sampai
ke rumah. Di tepi jalan malam itu, kau melepas helm untuk mengakhiri hari
dengan ucapan terima kasih yang lesu, sementara aku sibuk memilih antara membalasnya
dengan sampai jumpa atau hati-hati saja. Aku tak memilih keduanya. Lalu hujan
deras menerpa dan dinihari terlalu kolot untuk mengenal mentari.
Begitulah kita yang
terpisah oleh marka pertemanan. Dinihari menjadi waktu yang paling pas untuk
kita memenuhi trotoar jalan tanpa harus takut kena tilang. Basah
di pinggir kakimu harus kau keringkan. Jangan memijak kamar dengan membawa
becak lumpur yang hitam. Lalu mengetuk pintu pulang dan
membiarkan ibu terbangun dari rebahnya. Aku menuju kamar, menghabisi kantukku.
Ranjang adalah tempatku berpulang ketika tidak ada hati untuk berpaut.
Kantuk
menyeret ilusi dan hal-hal paling melankolis. Dinihari yang terlalu meruput untuk menjemput
mimpi. Mimpi dan realitas seperti tiada beda. Mereka
selalu join. Keduanya tidak mampu
menyatukan kita. Kau tampak getir di mimpiku. Membawa mawar yang tersayat
durinya sendiri. Ia mati suri. Lalu, kau menanamnya di kebun belakang bersama
belukar dan ilalang. Menjadikannya lapuk bersama debu halaman. Mawar tak lagi
merah. Layu menjadi cakar bagi hatinya. Janganlah kau
menebar kasih pada setiap rembes hujan di hujung cerucuk atap. Seusai
pagi merekah, aku nanar dalam menyimpul sikap. Bagaimana hausku rembes terlalu
dini.
Siapa yang akan
menolak binar matamu untuk bernyawa dalam mataku?
Cintamani
Tatkala blekok tengah asyik makan ikan
Mengusap peluhnya dengan belacu
Ah, sudahlah
Baru sejengkal menit berlalu
Berbanyol ria di tanah garapan
Oh adinda, indah nian bumi pertiwi
Senang mengawani dinda di sini
Adinda, lihatlah bayangan aku-kamu di air itu
Air tak beriak, hawa yang damai, binatang yang
berkawan
Aku yakin semesta turut meridhoi
Kan kakanda jemput dinda di pelabuhan kasih
Sabtu Malam
Senja merangkak menuju malam
Hitam nan kelam
Roman muka yang bertalu-talu menghujam masuk
Derap gerimis dengan pongahnya mengayun ambung
Ini dilema bagai buah simalakama
Dimakan pahit, dibuang sayang
Dinikmati pedih, dilupakan enggan
Berkutat pada riuh rendah angin malam di luar sana
Anganku berontak memang sableng
Bimbang, gelisah, gundah gulana
Aku ini si pengais puing-puing
kenangan
Aku ini yang tak mampu menyemai benih rindu di ladangmu
Kau tancapkan akar liar di sajakku
Melesak dalam seperti menggodot ranah hati
Biar ku titipkan rasa ini pada batu
Biar hujan yang bertanggung jawab
Mengikis batu hingga lenyap
Kini malampun kian larut
Pohon-pohon membisu jaga ketenangan
Kunang-kunang yang berbinar di balik jendela
Mengantarku tidur di pelabuhan bantal golek
Berlayar ke Tepian
“Kita
cerai!”, Ayah membentak. Talak tiga sudah.Ya, itu adalah peristiwa enam tahun
lalu ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas tiga.
Aku adalah anak broken home yang
masih terlalu muda untuk menjadi tulang punggung keluarga.
Kesulitan ekonomi mulai melanda keluarga
kami setelah satu tahun si kutu kupret itu meninggalkan Ibu. Aku memutuskan
untuk berhenti sekolah dan membantu Ibu mencari uang untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari dan untuk menyekolahkan adikku. Ada perasaan menyesal memang,
ketika aku tidak bisa seperti teman-temanku yang melanjutkan sekolah ke jenjang
berikutnya. Tetapi Ibuku hanyalah seorang pekerja serabutan yang gajinya
pas-pasan dan tubuhnya yang mulai ringkih membuatku tak tega melihatnya. Maklum
usianya sudah menginjak setengah abad.
Aku benci Ayah. Mengapa Ia lebih memilih
wanita jalang itu daripada Ibu yang lemah lembut dan cantik menawan bagiku.
Semenjak persidangan, Ibu tidak pernah terlihat menitikkan air mata setetes pun.
Mungkin Ibu hanya menangis di dalam toilet di bawah pancuran air shower. Sehingga air matanya mengalir
bersama dengan tetesan air shower tanpa
terlihat sedikit pun. Ibu memang wanita yang tegar.
Adikku Halmer adalah satu-satunya
harapan keluarga. Halmer sekarang berumur 16 tahun. Syukurlah aku dan Ibu masih
sanggup membiayai sekolahnya sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Sempat aku
berpikir bahwa hidupnya pasti akan lebih mujur daripada kakaknya.
Aku dan Ibu bekerja mati-matian untuk
menafkahi keluarga. Mulai dari pembantu rumah tangga, tukang bangunan, tukang
parkir, bahkan buruh pasarpun pernah aku jalani. Sedangkan Ibu hanya bekerjadi
rumahsambil membuka jasa menyetrika baju karena memang aku yang memintanya
begitu. Berkali-kali aku bergonta-ganti pekerjaan. Bukan karena kualitas
kerjaku yang buruk lalu dipecat atasan, tetapi karena aku berusaha mencari
penghasilan yang lebih besar sebisa mungkin demi adikku. Beberapa kali aku
mulai putus asa dan menyerah karena letih dipundakku tak bosan-bosannya bertengger.
Jalan hidup yang kulalui terasa berat dan abstrak. Sulit dilalui oleh aku yang
masih berusia 20 tahun tanpa ijazah SMA berkeliaran di jalan untuk mencari
secercah harapan hidup.
Sampai pada suatu hari keterpurukan
menerjang keluarga kami. Ibu sakit dan harus istirahat yang cukup. Kini hanya
aku yang benar-benar harus menantang hidup. Menaikkan topi dan… “Prit!
Prit!!!”, peluit kutiup sembari mengatur keluar masuknya kendaraan di sebuah
pusat perbelanjaan. Aku harus menegakkan tulang belakangku dan kembali tegap
memandang ke depan.
* * *
Aku sempat melalui hidupku dengan menggelandang di
jalanan. Sedang apa? Ya, aku menggoyang-goyangkan kicrikan sambil menengadahkan
satu tanganku sembari menyambangi kendaraan satu dan kendaraan lainnya. Aku
mengamen saat tengah hari bolong. Keringat bercucuran dan asap kendaraan pun
menerjang mukaku bertubi-tubi. Seharian aku menghabiskan waktu di sekitaran
lampu Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) dan beberapa kali
mengistirahatkan tubuhku di bawah pohon ditemani semilir angin yang
menenangkan.
Tak terasa hari sudah mulai sore, aku berjalan pulang ke
rumah untuk menyetor uang pada Ibu. Di jalan aku melihat segerombolan anak geng
sedang tertawa terkekeh-kekeh, sepertinya mereka sedang melakukan sesuatu yang
cukup privasi. Satu orang pergi meninggalkan gerombolan itu dengan membawa
sesuatu yang dibungkus rapat. Aku terus berjalan tanpa melengoh ke arah mereka sedikit
pun. Aku diam saja melewati mereka. Tetapi langkahku terhenti setelah sebuah
tepukan mendarat di pundakku. Aku menoleh.
“Ini untukmu”, katanya.
“Apa ini?”, aku menanggapi mereka dengan perasaan bingung
mengapa aku meladeni orang yang tidak kukenal ini.
“Kelihatannya kamu sedang lelah, mungkin kamu perlu ini.
Coba rasakan ini, kamu akan merasa bebas dari semua masalah yang mengikatmu”
Aku menerimanya dan berlari pulang.
Sesampainya di rumah aku langsung menyetor uang kepada
Ibu dan masuk kamar. Aku mengunci diri dalam kamar. Aku menggerayangi saku
celana dan mengambil benda yang diberikan lelaki tadi. Bentuknya pil. Tanpa
perlu pikir panjang, aku pun langsung meminumnya satu buah karena penasaran.
Keesokan harinya aku kembali mengamen di tempat biasa. Setengah
hari sudah aku mondar-mandir di antara mobil dan sepeda motor. Seperti biasa
aku selalu disinisi oleh para pengendara yang berhenti di sekitar lampu APILL
itu. Terik mulai menggelitik kulitku. Aku menuju pohon yang rindang untuk
beristirahat. Tiba-tiba seseorang yang kemarin memberiku obat datang
menghampiriku dan menawarkanku untuk menjual obat itu. Aku setuju karena aku
akan diberinya uang. Aku mulai menjual obat itu dengan mengiming-imingi orang
lain bahwa obat itu manjur untuk menjaga spirit tetap optimal. Padahal aku
sendiri kurang paham obat apakah itu. Aku mulai menipu, membual, dan mengumbar
1001 kebohongan di mana-mana.
Suatu saat aku sadar dari keterlenaanku akan uang yang
aku peroleh. Aku baru mengetahui bahwa obat itu adalah narkoba ketika salah
seorang pelangganku menuduhku menjual obat yang telah membuat Ia kecanduan. Tetapi
aku tidak tahu sama sekali!. Tampilan obat itu begitu meyakinkan di balik kedok
busuknya.
Perasaanku bergejolak, aku gelisah dengan kebodohan yang
selama ini aku perbuat. Ibu dan adik bahkan tidak tahu bahwa aku melakukan
pekerjaan kotor yang selama ini aku perbuat. Untung saja aku hanya meminumnya
satu hanya sekedar untuk mencicipi, pikirku. Aku heran mengapa aku tidak
kecanduan. Mungkin obat itu hasil oplosan dengan obat lain yang sering dijual
di pasaran. Atau orang itu telah membodohiku?, aku bergumam.
Perasaanku seolah amburadul dikoyak arus sungai yang
deras. Tidak dapat dipungkiri bahwa aku telah menjadi seorang bandar. Ya, bandar
narkoba.
* * *
Siang
hari ketika aku berjalan di sepanjang trotoar, aku melihat beberapa polisi
berlari ke arahku.
“Angkat
tangan!”, seru salah seorang polisi.
Aku
tersontak mengangkat tangan, terpaku, dan melotot ketakutan. Aku tahu
orang-orang di sekitarku pasti terkejut. Aku ditangkap. Salah seorang pembeli
obatku mungkin telah melaporkanku ke polisi. Tanganku diborgol. Aku diangkut
mobil polisi. Aku hanya menunduk malu dan teringat Ibu dan adik yang ku
tinggalkan. Mungkin mereka sedang cemas dan ketar-ketir menungguku di rumah.
“Sudah berapa lama Anda menjadi pengedar
narkoba?”, tanya polisi itu.
“Dua
bulan, Pak.” Aku mencoba berusaha jujur untuk mempertanggungjawabkan segala
kesalahanku.
“Narkoba
bentuk apa yang Anda jual?”
“Pil”,
jawabku lirih.
Aku
dihujani berbagai macam pertanyaan menyelidik. Berkat kejujuranku, kini aku
masuk jeruji besi dan tinggal bersama tawanan lain. Aku divonis 2,5 tahun
penjara. Aku marah pada diriku sendiri dan orang lain. Geram. Mengapa hal ini
terjadi padaku? Mengapa aku mau menerima tawaran anggota geng itu? Mengapa
mereka tega menjebakku? Cobaan ini begitu berat dan pedih.
Beberapa
hari kemudian Ibu dan adik menjengukku di rumah tahanan. Mereka menyaksikanku
tak berdaya sedang memegangi jeruji besi sambil meratap di antara celah jeruji.
Aku melihat Halmer menangis. Aku tidak tahu apakah itu tangisan kerinduan
ataukah yang lain. Tangisan itu telah menyentuh hati dan membuka mata batinku. Aku
pun tergerak untuk berubah.
Mimpi
itu memang terlihatnya jauh jika kita tidak berusaha. Selama di penjara aku
banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Aku membaca sekitar 15 buku dalam
sehari. Aku melalui hari-hariku dengan membaca dan membaca. Selain membaca aku
juga menulis dan mencoba untuk menyusun buku.

* * *
Aku telah membaca sekitar 90% dari 3.000
buku yang ada di perpustakaan dan berhasil menyelesaikan tujuh buku. Setelah
2,5 tahun berlalu, akhirnya aku bebas dan bisa bernapas lega.
Ibu dan adikku pasti sedang menungguku
di rumah. Setibanya di rumah, aku menghampiri Ibu dan bersujud di bawah kakinya
untuk meminta maaf. Senang mengetahui bahwa Halmer telah menyelesaikan
sekolahnya.
Keesokan harinya, aku mendatangi
penerbit untuk menawarkan bukuku. Sayang aku ditolak. Aku mencari penerbit lain
dengan tujuan yang sama, namun aku ditolak lagi karena latar belakangku yang
hanya seorang tamatan SMP dan mantan narapidana.
Sampai suatu ketika aku bertemu dengan
seorang penerbit yang tertarik dengan bukuku dan bukuku pun berhasil
diterbitkan. Aku bersyukur.
Lalu aku pergi ke suatu sungai terdekat
untuk merilekskan pikiran. Aku memejamkan mata dan berkata dalam hati, “Walaupun
gelap dan dalam, walaupun arusnya deras, walau tak berjalan baik, dan walau
terkadang tenggelam, tetapi kini aku telah menemukan tepian dan aku telah
sampai.”
Aku bersyukur karena penjara telah
menjadi sebuah batu lompatan bagiku untuk menemukan jalanku. Tuhan telah
merencanakan sesuatu yang indah dan tak pernah kubayangkan. Aku melihat batu di
bawah kakiku dan mengambilnya satu. Aku memegangnya erat dan melemparkannya
jauh-jauh. Lalu aku merentangkan tangan dan berteriak, ”Batu yang telah
kulemparkan akan mengabulkan impian!” Bahkan suara jatuhnya pun tak terdengar.
Aku teringat ketika aku masih SMP, aku
selalu mendapatkan nilai yang baik di kelas sastra. Sekarang aku dapat
membuktikan bahwa seorang tamatan SMP dan mantan narapidana pun bisa menggapai
impiannya. Asal Ia mempunyai tekad yang besar dan mau berusaha.
Akhirnya dari omzet penjualan bukuku,
aku bisa mengangkat derajat keluargaku untuk menebus masa lalu yang kelam. Aku
juga mendirikan sebuah yayasan sosial untuk menampung anak-anak jalanan, mantan
napi, dan anak yatim. Berkat yayasan itu aku pun banyak mendapatkan
penghargaan. Aku juga telah mengejar paket B untuk mendapatkan ijazah SMA.
Sekarang aku telah diangkat sebagai Ketua Granat (Gerakan Nasional Anti
Narkoba) dan aku Nathan Jayden tak akan pernah berhenti untuk menulis. Ini
untuk Ibu dan Halmer.
TAMAT
Keluarga Madison
Keluarga
Madison terdiri dari empat orang anggota keluarga. Louis adalah putra pertama
dari pasangan Bapak dan Ibu Madison yang menikah sekitar tahun 2002. Louis
berumur delapan tahun. Louis adalah anak yang pendiam. Dengan Ibunya sendiri saja
Ia jarang berbincang-bincang. Sekilas Ia memang terlihat seperti anak-anak
normal pada umumnya. Namun di balik itu semua, Ia memiliki keanehan. Ia tidak
suka berlama-lama berada di bawah paparan sinar matahari. Setiap keluar rumah
Ia selalu mengenakan jaket, topi, kaus kaki mencapai lutut, juga sepatu catnya.
Ibu
Madison tidak seperti “tante-tante sosialita” yang sering berpesta pora,
foya-foya, serta berkumpul dengan teman-teman sederajat atau berpangkat. Ibu
Madison tidak pernah terlihat pergi ke mall atau tempat-tempat merawat dan
mempercantik diri. Ia juga sama anehnya di mata para tetangganya. Ia tidak
pernah keluar rumah untuk sekedar membeli stok bahan makanan atau kebutuhan
dapur lainnya di tukang sayur yang sering lewat saat pagi hari. Jika ingin
membeli sesuatu Ia pasti meminta tolong pada anaknya, Louis. Ibu Madison hanya
keluar di sore hari saat senja mulai menyongsong dan akan kembali beberapa saat
setelah suaminya pulang dari kantor. Ibu Madison pergi dengan menggunakan mobil
pribadinya yang dulu Ia beli ketika Ia masih menjadi seorang wanita karier.
Namun sejak Ia melahirkan Eleanor, Ia memutuskan untuk menjadi seorang Ibu
Rumah Tangga. Ia sering pergi ke pantai untuk menenangkan diri.
Bapak
Madison adalah sesosok ayah yang rajin dan disiplin. Dengar-dengar berkat
kekreativitasannya Ia menduduki jabatan yang dibilang cukup tersohor dan
disegani karyawan lain. Untuk masalah gaji sudah tidak diragukan lagi. Bapak
Madison selalu sampai di kantor tepat pada waktunya. Padahal jarak antara rumah
dan kantornya terbilang cukup jauh. Ia selalu berpenampilan rapi, bersih, juga
menawan dengan postur tubuh yang dapat membuat Ibu-Ibu PKK terpesona dan
menggigit jari. Setiap pagi Bapak Madison selalu mengendarai mobil sedannya
untuk berangkat bekerja dan akan pulang sekitar jam enam sore.
Louis
memunyai seorang adik perempuan yang bernama Eleanor. Eleanor berumur enam tahun.
Eleanor adalah seorang anak yang autis dan selalu dianggap menyusahkan Keluarga
Madison. Hampir setiap hari Ia mengamuk tidak karuan dan membuat keadaan di rumah
semakin kacau. Mungkin dengan mengamuk Ia berusaha menunjukkan ketidaksukaannya
pada sikap Ibu Madison terhadapnya. Beberapa tetangganya kerap kali mendengar
Eleanor menangis dan menjerit-jerit kesetanan. Namun jerit tangis itu hanya
terdengar ketika Bapak Madison sedang tidak ada di rumah. Hal itu membuat
beberapa tetangganya berprasangka buruk bahwa telah terjadi Kekerasan Dalam
Rumah Tangga (KDRT) di Keluarga Madison.
Louis
berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki namun kadang mengendarai sepeda. Louis
terkenal sebagai anak yang cerdas. Ia sangat menyukai sastra, politik, dan
sejarah. Ia adalah anak yang unik. Biarpun umurnya masih belia tetapi
pemikirannya sudah seperti pemikiran orang dewasa. Di usianya yang masih
delapan tahun, kini Ia sudah duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Ia pernah loncat
kelas karena dianggap telah menguasai pelajaran kakak kelasnya. Terbukti di
sekolah barunya, Ia dapat dengan cepat menangkap pelajaran. Tampaknya Ia tidak
menemukan kesulitan sekecil apapun dalam belajarnya.
Sejak
kecil Louis memang sudah dimasukkan ke suatu Lembaga Bimbingan Belajar untuk
mengikuti bermacam-macam les dari hari Senin sampai Sabtu. Di usianya yang
masih sangat muda Ia sudah disibukkan dengan berbagai macam aktivitas. Biarpun
semua itu baik baginya, tetapi jika terlalu diforsir hal tersebut dapat mengurangi
waktunya untuk bermain layaknya anak-anak seusianya. Ia hanya memunyai waktu
senggang di hari Minggu. Itupun hanya Ia isi dengan bermain-main di tanah
kosong sebelah rumahnya. Tentunya saat hujan turun saja Ia bermain. Disaat
teman-teman sebayanya dilarang keluar untuk bermain oleh orang tuanya, Louis
malah asyik bermain seorang diri. Ia begitu menyukai hujan. Ia seringkali
bersenandung dalam sebuah puisi.
Hujan
Hujan tumbuh dalam ingatanku
Beranak cucu dan meracuni darahku
Hujan menyeduhkanku rindu dalam secangkir kopi
Menggigil di bibirku
Terbenam bersama Eyang Senja
Bernapas dalam sajakku
Bermalam dalam napasku
Bermain-main di kuncup mataku
Begadang dalam lidah doa
Dan terlelap juga dalam senandung angin
sapu-sapu
Hujan terkempit di sela ketiak
Atau Ia sedang berputar-putar di pusarmu?
Rupanya si hujan sedang terkurung dalam
tahilalatmu
Jatuh di helaian rambutmu yang oleng
Mewabah di jantungku
Menjadi musibah dalam benakmu
Aku percaya hujan akan mengguyur hati Ibu yang
amarah
¤¤¤
Setelah
puas bermain hujan, Louis langsung membersihkan dirinya lalu mengerjakan
pekerjaan rumah dan beristirahat.
Louis
memunyai alasan tersendiri mengapa Ia lebih memilih disibukkan dengan berbagai macam
aktivitas yang selama ini sedikit merenggut kebahagiaan masa kecilnya daripada
Ia harus berlama-lama berada di rumah. Louis tidak terlalu menyukai Ibunya. Ibu
Madison terlihat menyeramkan di matanya. Semenjak
Louis berumur 6 tahun, Louis merasakan perubahan sikap yang sangat drastis dalam
diri Ibunya. Ibu Madison tidak sepeduli dulu pada Louis. Sebenarnya Louis ingin
sekali melihat keluarganya kembali seperti sedia kala. Bahkan sempat terlintas
di benak Louis andaikan saja Eleanor tidak pernah dilahirkan atau setidaknya
tidak terlahir autis seperti itu. Namun biar bagaimanapun juga, Louis
menyayangi adik perempuannya, Eleanor.
Louis
merasa bahwa kini Ibu Madison sama sekali tidak memiliki sifat keibuan dan
sifat penyayang seperti Ibu-Ibu lain yang selalu mengecup anaknya dalam
sepenggal doa. Mungkin hanya satu kebaikan Ibunya yang selama ini Ia rasakan
yaitu saat Ibunya menyiapkan bekal sarapan untuknya. Louis selalu beranggapan
bahwa Ibu Madison sangat membencinya dan setiap kali Ibunya memarahi adiknya,
Eleanor. Ia terlihat layaknya seperti seorang monster yang siap memangsa musuh
dalam cakarnya.
Setiap
pulang sekolah Louis selalu membawa kunci sendiri karena Ia tahu bahwa Ibunya
sedang tidak ada di rumah. Ia langsung buru-buru menuju dapur untuk mengambil
makanan dan minuman di lemari pendingin. Ia segera menuju kamarnya dan mengunci
rapat-rapat pintu kamarnya. Ia banyak menghabiskan waktu di kamarnya dan baru
akan keluar saat orang tuanya sudah memanggilnya untuk makan malam bersama.
Saat
makan malam berlangsung pun semua anggota keluarga tidak banyak omong dan canda
tawa layaknya keluarga yang harmonis. Keadaan begitu hening. Bapak Madison
memang terlihat ramah tetapi Ia tidak suka bercanda atau sekedar asal
menyeletuk. Ia memang terlalu serius terhadap pekerjaannya sehingga berpengaruh
juga dalam sikap di hidup kesehariannya. Namun pernah Bapak Madison membuka
percakapan singkat dengan Louis hanya sekedar untuk menanyakan mengenai sekolah
barunya atau teman barunya.
Ibu
Madison hanya diam, menunduk, dan fokus pada hidangan makan malamnya. Ia jarang
tersenyum. Padahal dulu Ia adalah seorang wanita yang dikenal dengan lesung
pipinya yang menggemaskan. Namun kini lesung pipi itu bagaikan hilang ditelan
bumi.
Heningnya
meja makan pecah ketika Eleanor yang duduk di samping Ayah makan dengan
lahapnya sembari mengeluarkan bunyi sendok dan piring yang saling beradu dan
menimbulkan suara gaduh. Nasi yang berlepotan di sekitar mulut Eleanor juga
berserakan di meja makan menjadi pemandangan yang kurang mengenakkan untuk
dipandang. Belum lagi ditambah dengan tampangnya yang plonga-plongo seperti
orang dungu semakin memantapkan skenarionya sebagai anak autis.
Louis
sudah selesai makan. Ia pamit terlebih dahulu ke kamarnya untuk tidur. Louis
berbicara kecil, “Entah bagaimana nanti Ibu akan membujuk Eleanor masuk kamar.
Mencubitinya atau bahkan menyeretnya secara paksa”. Itulah alasan mengapa Louis
selalu masuk kamar lebih dulu. Ia tidak tega saat melihat adiknya diperlakukan
secara kasar oleh Ibunya. Louis juga tidak pernah mengerti alasan mengapa
Ayahnya hanya diam saja saat mendengar anak perempuannya berteriak kesakitan.
Pernah Louis bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah Ayah diancam oleh Ibu atau
malah Ayah berada di pihak Ibu?” Itulah pertanyaan yang tidak pernah terjawab
olehnya sejak adiknya Eleanor berumur 4 tahun hingga kini Ia berumur 6 tahun.
Keluarga
Madison sering menjadi bahan pergunjingan warga setempat karena tingkah laku
mereka yang janggal. Bahkan sempat tersebar kabar bahwa Ibu Madison adalah
seorang pecandu obat-obat terlarang yang telah merubah sikapnya menjadi semakin
tempramental terhadap kedua anaknya dari hari ke hari. Para warga juga mengira
bahwa Keluarga Madison pindah ke desa terpencil tersebut karena mereka sedang
menjadi buronan polisi.
Selama
kurang lebih dua bulan lamanya, semua terlihat biasa-biasa saja dan tidak ada
protes dari warga secara langsung.
¤¤¤
Sampai
pada suatu ketika terjadilah kejadian yang sangat mencengangkan warga. Pada
malam hari salah seorang warga melihat Ibu Madison sedang mengubur sesuatu yang
dibungkus kantong plastik hitam berukuran besar. Ibu Madison terlihat
terengah-engah saat menimbun kantong plastik itu. Warga tersebut tidak
menghampiri Ibu Madison, tetapi Ia langsung melaporkan kejadian itu ke ketua
RT.
Pada
keesokan harinya, setelah Bapak Madison dan Louis berangkat ke kantor dan ke sekolah.
Para warga berdatangan. Warga berdemo ramai-ramai. Para warga mendobrak paksa
pagar rumah Keluarga Madison. Beberapa warga ada yang menggali timbunan itu.
Warga mendapati kantong hitam itu berisikan mayat Eleanor. Para warga
tercengang melihat tubuh Eleanor yang sudah terbujur kaku. Warga langsung
menerobos masuk pintu rumah Keluarga Madison. Di sana terlihat Ibu Madison
sedang jongkok ketakutan. Rupanya Ia telah menelepon suaminya untuk segera
pulang sebelum para warga menggali timbunan itu. Ibu Madison menangis dan
mengaku bahwa suaminyalah yang telah membunuh Eleanor ketika semua anggota
keluarga sudah tertidur pulas.
Suaminya telah membekap mulut Eleanor dan
menekan wajahnya dengan bantal hingga Eleanor berhenti bernapas. Ibu Madison
mengatakan bahwa suaminya melakukan hal itu karena Eleanor terus bertingkah dan
tidak mau diam. Ia hanya disuruh suaminya untuk menguburkan jasad Eleanor di
tanah kosong sebelah rumahnya. Tak lama
kemudian Bapak Madison tiba di rumahnya. Ia mendapati banyak warga berkerumun,
dua buah mobil polisi terparkir di depan rumahnya, dan police line yang
dipasang mengitari tanah yang digali. Bapak Madison langsung dibawa oleh polisi
ke kantor polisi. Para warga banyak yang tidak menyangka bahwa sosok Bapak
Madison yang selama ini mereka anggap ramah ternyata Ia adalah seorang
pembunuh. Jasad Eleanor pun rencananya akan dikebumikan di tempat yang layak
esok harinya.
Saat
Louis pulang dari sekolah, Ia kaget dan sedikit takut karena melihat bahwa sore
itu Ibunya sedang berada di rumah. Saat Louis hendak menuju kamarnya Ibunya
berkata, “Bapakmu dipenjara”. Langkah Louis terhenti dengan mata yang melotot. Namun
Louis tanpa membalikkan badan terus berjalan menuju kamarnya karena Ia tahu
bahwa Ibunya pasti hanya bercanda.
“Siang
ini kita makan roti saja. Uang Ibu sudah habis untuk membeli peti mati untuk
adikmu”, kata Ibu Madison.
“Ibu
ini bicara apa? Apa yang Ibu katakan tadi benar?”, sela Louis.
“Sudah, makanlah dulu. Bapakmu itu
pembunuh! Ia telah membunuh adikmu Eleanor”, jawab Ibu Madison ketus.
“Tidak mungkin! Ayah orang
yang baik! Justru Ibu yang selama ini kasar pada Eleanor!”, Louis masih membela
Ayahnya.
“Berhentilah mengoceh atau kamu
juga akan menyusul adikmu!”, ancam Ibunya
“Jangan kira aku tidak tahu kalau selama
ini Ibu selalu menyekap Eleanor di ruangan seberang kamarku saat Ibu pergi!”,
jawab Louis dengan penuh emosi.
“Sepertinya kamu tahu banyak ya
mengenai rahasia Ibu? Kalau begitu jangan salahkan Ibu jika pisau ini menancap
di tubuhmu”, kata Ibunya sambil menampakkan kekesalannya.
Namun nasi telah menjadi bubur. Rasa
emosi Ibu Madison mampu mengalahkan rasa sayangnya pada Louis. Pisau pun terlanjur
tertancap dan tepat mengenai jantung Louis.
Beberapa
saat kemudian, salah seorang tetangga menemukan Louis sudah tergeletak
berlumuran darah di tanah kosong di samping rumah Keluarga Madison. Tetangganya
tersebut berteriak minta tolong dan segera menghubungi polisi dan Rumah Sakit.
Para warga, polisi, juga ambulan segera berdatangan ke lokasi kejadian. Polisi
tidak menemukan seorang pun di dalam rumah Keluarga Madison. Beberapa saat
kemudian anak buah polisi tersebut mendapat telepon dari Kepala Kantor Polisi
setempat dan mendapat kabar bahwa tersangka pembunuhan, yakni Ibu Madison telah
menyerahkan diri ke polisi dan telah terbukti bersalah.
Ketika melewati sel tahanan suaminya, Ibu
Madison menyerahkan sepucuk surat yang bertuliskan:
“Ibu telah mengirimkan kedua anak kita ke
Surga, Pa”.
The End
Langganan:
Postingan (Atom)










