Aku selalu
takut untuk mencintai sepenuh hati karena pada saat itu pula, aku menyepakati
konsekuensi untuk tersakiti. Sakit yang melebihi rasa sakit. Ya, teramat
sakit ketika ia pergi meski tak jauh dan meski hanya sambilalu. Maka
dari itu ku putuskan, aku sebagai perempuan tegar dengan gaya cuek ini untuk selalu
bersikap sok cool. Pokoknya anti
sakit hati! Aku begini karena aku tidak pernah berani untuk mencintai sepenuh
hati. Aku memang terlalu pecundang dan oleh karenanya aku tidak pernah
menikmati setiap hubungan percintaan yang ku jalani. Tetapi kalaupun boleh, aku
ingin menyampaikan sedikit pembelaan. Iya donk,
aku begini karena hatiku memang belum menemukan orang yang tepat untuk dicintai
sepenuh hati; oleh orang dengan hati yang begitu sensitif perihal cinta ini.
Aku heran pada keteguhan hati tiap kekasih
para angkatan, baik udara, laut, maupun darat yang kerap ditinggal kekasihnya
bertolak. Pikiranku janggal memikirkan bagaimana bisa mereka membina hubungan bila
hanya untuk merasakan perpisahan. Coba kau pikirkan, bagaimana bisa seorang
istri bertahan dan berkecukupan dalam hubungan model begitu. Memang sudah
kewajiban bagi angkatan untuk menunaikan tugasnya di medan perang dan
meninggalkan kekasihnya sebagai akibat yang tak disengaja dari tugasnya. Hidup
memang perkara sebab akibat.
Aku sadar bahwa setiap insan akan
selalu merasakan kehilangan, dirundung kesepian dan kemalangan hanya karena
tidak bersama dengan orang terdekatnya dalam suatu waktu tertentu dan oleh
karena suatu alasan. Dan kita selalu dihadapkan pada pilihan antara
meninggalkan atau ditinggalkan. Tetapi, tidakkah wajar apabila kita menyebutnya
sebagai kurang ajar pada seorang yang telah membuat kita jatuh hati begitu
jatuh, dan dengan santainya pergi dengan alasan bertugas? Sekali lagi,
tidakkah? Lalu bagaimana dengan hati orang yang ditinggalkan. Aku meyakini
bahwa per satuan kenangan yang terputar kembali dalam otaknya akan memunculkan
satu goresan baru di hati yang ditinggalkan itu.
Ketika dua orang atau lebih terbiasa
hidup bersama, maka mereka akan saling tergantung. Begitu pula perasaan seorang
kekasih yang ditinggalkan itu, pertemuan menjadi sebuah kebutuhan dan bersentuhan dapat
menimbulkan kepuasan jasmani tersendiri. Dan apabila jika mereka berpisah, aku berani
bertaruh bahwa mereka tidak akan sejahtera hatinya karena ada hati yang tidak
terpuaskan. Tolong, dapatkah para pengembara itu mengerti? Aku bukan tidak
ingin mereka sukses di negeri seberang dan mengoleh-olehkan kesuksesan itu
untuk kekasihnya nanti. Atas nama perempuan yang ditinggalkan, aku hanya
terlalu kaget ‘pabila kebutuhanku dirampas secara tiba-tiba.
Nb : tidak untuk dinyanyikan.
