dindingnya tersusun rapi dari papan kayu
Aku langsung bisa membaca usianya dari ruas-ruas kayu yang tergores
Mataku sedikit tergelitik pada sebuah lubang besar
Lotengnya ambrol; ku rasa muat untuk persembunyian anak lima tahun
Apakah angin menyapanya sedemikian riang?
Memang udaranya kelampau gigil pagi itu, bulu kudukku saja tak kuasa menahan belaiannya
Lubang itu menyuarakan cericit kian lantang
seolah pasukan tikus di sana belum puas menggelar hajatan semalam suntuk
Aku menaruh curiga
pada sebuah kuburan baru yang ku lewati beberapa langkah sebelumnya
Taburan mawar sedari tadi mengarak langkahku
dan berhenti tepat ketika suara cericit itu memecah lengang
Mungkin Beliau ingin menyampaikan salam perpisahan pada tikus-tikus loteng itu
melalui aku
Baiklah Tuan
Sepertinya sang empunya sengaja mewariskan lubang besar itu
Siapa lagi kalau bukan untuk mereka yang berseliweran di gang itu
Kalaupun beliau memilih seorang pengembara seperti aku, dan bukannya warga setempat
Ah kau tahu benar cara menyanjungku Tuan
Sesekali akan ku siulkan salam kehangatan suam-suam kuku
P. S: Jangan tanya apakah ini sejenis puisi. Sebab tak pernah ada yang benar-benar puisi. Sama halnya dengan kamu yang tak pernah benar-benar puas pada satu cara mencinta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar